Dely Ismail, Wisudawan Bidikmisi dengan Sederet Prestasi

[unpad.ac.id, 6/2/2018] Berasal dari kecamatan kecil di Kabupaten Subang, tidak membuat Dely Ismail patah arang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Rasa minder terhadap citra “anak kota yang serba tahu”, mendorong Dely mempelajari lebih dahulu mata kuliah tentang matematika, bahkan sebelum ia mengawali kuliahnya di program studi Matematika Universitas Padjadjaran.

Dely Ismail. (Foto: Tedi Yusup)*

“Sebelum kuliah, saya sempat minder, karena sadar dari kampung. Takut tidak bisa bersaing dengan teman-teman dari kota besar,” ungkap Dely, wisudawan dari program Bidikmisi Unpad pada Wisuda Lulusan Gelombang II Tahun Akademik 2017/2018, Selasa (6/2).

Dely merupakan pemuda dari Kasomalang, Subang. Sewaktu SMA, sempat tidak terpikir untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun, berbekal informasi adanya program bantuan Bidikmisi dari Pemerintah yang memberikan bantuan biaya kuliah kepada mahasiswa yang mampu secara akademik tapi tidak mampu secara ekonomi, Dely pun mengubah pemikirannya.

Unpad pun dipilih Dely sebagai perguruan tinggi tujuannya kala itu. Ia meyakinkan kedua orang tuanya yang ragu apakah bisa membiayai kuliah Dely sampai tuntas. Anak pertama dari tiga bersaudara ini menjelaskan, dengan program Bidikmisi, kedua orang tuanya tidak perlu terbebani untuk membayar kuliah dan membayar akomodasi Dely selama berkuliah.

Pada akhirnya, Dely dinyatakan lulus SBMPTN dan menjadi mahasiswa penerima Bidikmisi di prodi Matematika Unpad pada 2014. Ia pun berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan masa studi 3,5 tahun dan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,8.

Ada yang unik saat Dely dinyatakan diterima di prodi Matematika. Kebetulan, ia memiliki kenalan alumnus prodi Matematika Unpad. Ia pun meminjam seluruh buku dan referensi selama kuliah untuk dipelajari. Setidaknya, ia ingin bisa bersaing dengan “anak kota” saat awal berkuliah.

Berhasil mencuri start, justru Dely lebih banyak tahu ketimbang teman-temannya saat mengawali kuliah. Alhasil, Dely pun kerap diminta teman-teman seangkatannya untuk menjadi tutor dalam menjelaskan mata kuliah.

“Misalnya, ketika besoknya mau UTS, UAS, atau kuis, malamnya saya sering diminta teman-teman untuk menjadi tutor menjelaskan materi yang akan diujikan,” kenang Dely.

Rutin membimbing teman-temannya membuat ilmu yang didapat semakin melekat di otaknya. Dely menyadari bahwa sering mengajarkan ilmu kepada orang lain, semakin bertambah pula ilmu yang dimilikinya.

Tidak hanya fokus di perkuliahan, sederet prestasi juga diraih Dely saat menjadi mahasiswa Unpad. Di bidang akademik, Dely menorehkan sejumlah prestasi di tingkat regional maupun nasional, baik individu maupun bersama teman-temannya.

Tercatat, mulai juara pertama Olimpiade Sains Nasional Pertamina tingkat Jawa Barat pada 2015, juara kedua Calculus Cup Universitas Negeri Jakarta pada 2015, hingga berturut-turut meraih prestasi di ajang Mathematical Analysis & Geometry Day (Mag Day) Institut Teknologi Bandung.

Dely juga aktif di kegiatan kemahasiswaan, seperti UKM Futsal, UKM Bulutangkis, dan UKM Tenis Meja. Pria kelahiran 26 Maret 1996 ini juga kerap mengikuti kompetisi olahraga di tingkat kampus dan pernah menorehkan prestasi dan gelar.

Sejak kecil, Dely memang suka mengikuti lomba. Ia selalu senang melihat ekspresi kedua orang tuanya saat tahu ia berhasil menang di satu perlombaan. Kenangan akan kebahagiaan orang tua itulah yang memotivasi Dely untuk ikut dan meraih juara di lomba-lomba lainnya.

“Ini semacam mengangkat nama orang tua saya,” ujarnya.

Terkadang, bantuan Bidikmisi yang diperoleh Dely turun tidak tepat waktu. Biaya hidup sebesar Rp600.000,00 per bulan terkadang dibayar rapel di satu bulan tertentu. Mengatasi tingginya kebutuhan hidup, ia pun menjadi tutor di sejumlah bimbingan belajar.

Ini dilakukan karena ia tidak mampu membebani kedua orang tuanya. Sebagai anak pertama pasangan Awan Setiawan dan Eti Nurhayati, ia tidak mau keuangan dua orang tuanya sampai habis untuk membiayainya kuliah, sementara dua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah juga membutuhkan biaya.

Sehari-hari, orang tua Dely membuka usaha kecil-kecilan menjahit baju. Di sela perkuliahannya, Dely juga membantu usaha tersebut. “Biasanya kalau libur saya yang membawa jahitan ke Subang untuk dibordir,” kata Dely.

Untuk itu, ia bersyukur program Bidikmisi telah membantunya menyelesaikan kuliah. Jika tidak ada program tersebut, mungkin keinginannya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi tidak akan pernah terlaksana.

“Terima kasih, Bidikmisi. Mohon sosialisasi program ini dapat sampai hingga ke pelosok. Soalnya, banyak generasi muda dari kampung-kampus yang belum tahu program ini,” kata Dely.*

Laporan oleh Arief Maulana

 

 

The post Dely Ismail, Wisudawan Bidikmisi dengan Sederet Prestasi appeared first on Universitas Padjadjaran.