Pembangunan Gedung Pengelola Kawasan Sains dan Teknologi Unpad Resmi Dimulai

[unpad.ac.id, 21/09/2017] Pembangunan Kawasan Sains dan Teknologi di kampus Universitas Padjadjaran mulai dilakukan. Momentum ini diwujudkan dengan pembangunan Gedung Pengelola di wilayah yang telah ditetapkan sebagai area Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Unpad di Kampus Jatinangor.

Rektor Universitas Padjadjaran Prof. Tri Hanggono Achmad, saat peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pengelola Kawasan Sains dan Teknologi Unpad di Jatinangor, Kamis (21/09). (Foto: Tedi Yusup)*

Pembangunan Gedung Pengelola KST ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad bersama Sekretaris Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Dr. Ir. Agus Indarjo, M.Phil., Direktur Kawasan Sains dan Teknologi Kemenristekdikti Dr. Ir. Lukito Hasta P., M.Sc., dan Ketua KST Unpad Prof. Dr. Edy Sunardi, Ir., M.Sc, di kampus Jatinangor, Kamis (21/09).

Dalam kesempatan tersebut Rektor mengatakan, KST merupakan fasilitasi untuk mengimplementasikan berbagai gagasan yang dihasilkan dari aktivitas riset peneliti Unpad. “Termasuk juga, bukan hanya ide atau riset yang dihasilkan, tetapi juga membangun network kuat dengan para praktisi lainnya, khususnya ke masyarakat Sumedang,” kata Rektor.

Rancangan pembangunan KST Unpad telah mengemuka sejak 2015. Melalui tim review Masterplan dan penyusunan Detail Engineering Design (DED) yang diketuai Prof. Edy, KST dikembangkan sebagai wahana implementasi berbagai riset unggulan sekaligus mendekatkannya ke pihak industri dan masyarakat.

Selain itu, KST juga akan menjadi wahana pengembangan inkubasi bisnis yang ada di Unpad serta sentra pengembangan UMKM di Jawa Barat. “Ini fasilitasi juga untuk mahasiswa, karena proses pembelajaran berkaitan kuat dengan riset dan juga hilirisasinya,” ujarnya.

Berbagai usaha rintisan (startup) yang mengemuka dewasa ini sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa. Untuk itu, Rektor berupaya mendorong penguatan bisnis ini melalui integrasi dengan aktivitas riset dan pembelajaran. Pada akhirnya, KST menjadi wahana bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi.

Lebih lanjut Rektor menekankan, konektivitas dengan masyarakat menjadi kunci dikembangkannya KST. Ia menilai, jika riset yang tidak bermanfaat langsung ke masyarakat, maka kadar kualitasnya belum teruji.

Gedung Pengelola KST dibangun di area utara kampus Jatinangor, lokasi yang telah ditetapkan sebagai wilayah KST secara keseluruhan. Secara teknis, gedung ini dibangun dua lantai di atas lahan seluas 1,7 hektar.

Menggunakan dana APBN yang difasilitasi Kemenristekdikti, pelaksana pembangunan ini dilakukan PT. Ghories, sedangkan pengawas pembangunan dilakukan PT. Bumi Madani.

Prof. Edy Sunardi mengatakan, dibangunnya KST di area utara Kampus Jatinangor didasarkan pada potensi aksesibilitas KST oleh masyarakat. Ada tiga potensi utama pembangunan wilayah Jawa Barat yang mendukung aksesibilitas KST, yakni pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) yang dekat dengan wilayah utara kampus Jatinangor, pembangunan bandara internasional di Kertajati, serta rencana reaktivasi jalur kereta api di wilayah Jatinangor.

Secara keseluruhan, KST Unpad dibangun di atas lahan seluas 25 hektar. Ada empat fungsi utama dari KST, yaitu transfer teknologi, pengembangan teknologi, inkubasi, dan pengelolaan big data processing.

Sesuai implementasi PP 51 Tahun 2015 tentang Statuta Unpad, KST ini akan dikelola oleh Badan Usaha bentukan Unpad. Badan usaha ini nantinya menghimpun tiga unit utama pengelolaan KST, yaitu unit pengelolaan teknologi, unit layanan teknis, dan unit inkubasi bisnis. Badan usaha ini dikembangkan ke arah perusahaan baru berbasis teknologi (PBBT).






KST Unpad akan mengembangkan empat klaster penelitian unggulan yang ada di Unpad meliputi klaster agribisnis; herbal, ilmu kedokteran, dan teknologi; nanoteknologi; serta pengelolaan sumber daya air.

“Dari ratusan produk unggulan Unpad, kita sudah melakukan seleksi dan perhitungan. Yang masuk ke dalam KST adalah produk yang Tingkat Kesiapan Teknologinya di atas 8,” kata Prof. Edy.

Untuk unit inkubasi, KST menghimpun berbagai inkubasi bisnis yang ada di Unpad dan melibatkan UMKM yang ada di sekitar kampus. Dalam unit inkubasi ini pula, ada inkubasi teknologi yang dihasilkan dari para peneliti Unpad.

“Target 2025, kita sudah mencakup jejaring global market,” kata Prof. Edy.

Sementara itu, Dr. Agus Indarjo mendorong Unpad untuk segera mewujudkan riset komersial. Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan riset yang utuh, yaitu riset yang menghasilkan inovasi, teknologi terbaru, maupun modifikasi sehingga terwujud produk yang bisa di-scale up, diberikan kepada masyarakat, dan diproduksi masal.

“Kalau riset itu canggih tapi belum utuh, maka belum komersial. Tantangannya dari KST adalah riset komersial,” kata Agus.

Untuk itu, ia mengharapkan pengelola KST Unpad untuk selektif memilih riset-riset yang berpotensi komersial. Pemerintah sebagai penyedia anggaran pembangunan mendorong agar KST dapat menghasilkan beragam produk luaran yang bisa dimanfaatkan langsung ke masyarakat.

“Setiap supporting dari kelembagaan harus dipastikan output-nya,” tandas Agus.

Peletakan batu pertama ini dihadiri pula Sekretaris Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti yang juga Guru Besar FEB Unpad Prof. Dr. Rina Indiastuti, S.E., MSIE, Ketua Dewan Profesor Unpad Prof. Dr. Sutyastie Soemitro, M.S., para pimpinan universita dan fakultas di lingkungan Unpad, tim pengelola KST, perwakilan Kemenristekdikti, serta perwakilan konsultan pembangunan.*

Laporan oleh Arief Maulana

 

 

 

The post Pembangunan Gedung Pengelola Kawasan Sains dan Teknologi Unpad Resmi Dimulai appeared first on Universitas Padjadjaran.