Pendidikan Jadi Kunci Hadapi Bonus Demografi

[unpad.ac.id, 5/4/2018] Pendidikan menjadi sektor penting dalam menyiapkan generasi muda Indonesia memiliki daya saing. Kesiapan ini dilakukan guna memanfaatkan potensi bonus demografi di Indonesia yang diprediksi terjadi pada 2030 mendatang.

Gubernur Jawa Barat Dr. (HC) Ahmad Heryawan menjadi salah satu pembicara dalam seminar “Peran Jawa Barat dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Rabu (4/4). Selain Gubernur, seminar yang dimoderatori Dosen FISIP Unpad Mudiyati Rahmatunnisa,PhD, ini juga menghadirkan dua pembicara lainnya, yaitu Indonesianis dari Australian National University Prof. Marcus Mietzner dan Dekan FISIP Unpad Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata. (Foto: Tedi Yusup)*

Indonesianis dari Australian National University Prof. Marcus Mietzner mengatakan, bonus demografi akan efektif jika diimbangi pendidikan tinggi. Jika generasi muda tidak mendapatkan pendidikan yang layak, dikhawatirkan potensi ini menjadi masalah di kemudian hari.

“Jika tidak ada pendidikan, generasi muda tidak bisa memenuhi peran menghasilkan produktivitas, dan ujung-ujungnya menganggur,” kata Prof. Marcus dalam seminar “Peran Jawa Barat dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045” yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Rabu (4/4).

Prof. Marcus mengungkapkan, bonus demografi pada 2030 akan menjadi suatu keuntungan sekaligus kerugian. Jika digunakan secara proporsional, kelompok usia produktif ini akan menjadi keuntungan yang besar. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur dan tingginya arus investasi saat ini juga mendorong Indonesia semakin maju pada 2030.

Namun, pendidikan rupanya masih menjadi pekerjaan besar pemerintah. Pendidikan belum maksimal menyiapkan generasi muda yang memiliki keahlian. Prof. Marcus memaparkan, saat ini persentase sektor pekerja informal di Indonesia masih berada di angka 65%. Angka ini dinilai masih cukup tinggi jika dibandingkan negara tetangga.

“Jika angka produktivitas generasi muda semakin berkurang, dikhawatirkan pada 2030 puluhan juta generasi muda tidak akan bisa bekerja,” kata Prof. Marcus.

Pria yang fasih berbahasa Indonesia ini juga menyinggung sektor pendidikan tinggi Indonesia. Ia mendorong jumlah publikasi ilmiah Indonesia meningkat setiap tahunnya. Ini didasarkan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia masih kalah secara internasional.

Gubernur Jawa Barat Dr. (HC) Ahmad Heryawan membenarkan bahwa bonus demografi bisa menjadi keuntungan sekaligus kerugian. Provinsi Jawa Barat sendiri merupakan provinsi dengan kelompok usia muda lebih menonjol dibanding kelompok usia lainnya.

“Kalau (bonus demografi) ini diabaikan akan jadi persoalan, kalau dididik akan menjadi produktif,” kata Aher.

Selama 10 tahun menjadi Gubernur, pendidikan merupakan sektor yang terus ditingkatkan. Penambahan ruang-ruang kelas baru hingga kebijakan dalam meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) di pendidikan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi.

Terkait peningkatan APK di perguruan tinggi, ia menyambut baik upaya pemerintah pusat yang memandatkan tiga perguruan tinggi di Jawa Barat untuk membuka kampusnya di daerah. Unpad termasuk perguruan tinggi yang membuka Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) di Kabupaten Pangandaran.

“PSDKU ini merupakan bagian kecil menyambut Indonesia emas,” ujar Aher.

Sementara itu, Dekan FISIP Unpad Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata berpendapat, sumber daya manusia merupakan kunci penting keberhasilan menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini telah diterapkan pada kurikulum pendidikan di FISIP Unpad sejak dua tahun terakhir.

“Sejak dua tahun terakhir kurikulum FISIP Unpad terus direkonstruksi. Ilmu sosial politik harus kompatibel dengan perubahan,” ujar Widya.*

Laporan oleh Arief Maulana

The post Pendidikan Jadi Kunci Hadapi Bonus Demografi appeared first on Universitas Padjadjaran.