Tantangan Meningkat, Tenaga Kependidikan Harus Punya Kompetensi

[unpad.ac.id, 12/10/2017] Perguruan tinggi saat ini berperan tidak hanya sebagai penyedia keilmuan dan riset, tetapi berkontribusi dalam pembangunan ekonomi dan transfer keilmuan dan riset ke masyarakat. Pemerintah mendorong perguruan tinggi menjadi satu pilar untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Staf Ahli bidang akademik Kemenristekdikti Prof. Paulina Pannen saat berbicara dalam “Konferensi dan Seminar Nasional Jabatan Fungsional” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (12/10). (Foto: Tedi Yusup)*

 

“Kalau kita ingin pendidikan tinggi kita bermutu, maka menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Staf Ahli bidang akademik Kemenristekdikti Prof. Paulina Pannen saat berbicara dalam “Konferensi dan Seminar Nasional Jabatan Fungsional” di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (12/10).

Karena menjadi tanggung jawab bersama, tenaga kependidikan berperan penting dalam menjaga mutu pendidikan tinggi. Prof. Paulina mendorong tenaga pendidikan mampu meningkatkan relevansi kualitas dan kuantitas. Posisi ini bukan sekadar pekerja administratif di lingkungan perguruan tinggi, namun berkontribusi dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran.

Tenaga kependidikan mesti terlibat dalam berbagai kegiatan tridarma perguruan tinggi. Prof. Paulina menjelaskan, selama ini aktivitas tenaga kependidikan perguruan tinggi kerap terpisah dengan aktivitas tridarma. Padahal, aktivitas dosen tidak akan berjalan baik tanpa kontribusi tenaga kependidikan, dan sebaliknya.

Ia mencontohkan, salah satu posisi tenaga kependidikan di bidang perpustakaan berperan dalam menjaga mutu publikasi perguruan tinggi. “Pustakawan perguruan tinggi berperan menjaga jangan sampai ada plagiarisme,” kata Prof. Paulina.

Di sisi publikasi ilmiah, tenaga kependidikan juga berperan dalam memudahkan aktivitas riset dan publikasi dosen. Prof. Paulina berpendapat, dukungan di bidang regulasi, informasi, dan administrasi akan memudahkan peran dosen dalam melakukan penelitian.

“Saat ini jumlah publikasi Indonesia ketiga terbesar di Asia, mengalahkan Thailand. Ini berkat dukungan aktif dari para tenaga kependidikan,” ujarnya.

Untuk itu, tenaga kependidikan saat ini didorong memiliki kompetensi dengan mengisi jabatan fungsional tertentu sebagai upaya meningkatkan keahlian dan kapasitas. Pada dasarnya, setiap tenaga kependidikan saat ini wajib memutakhirkan kompetensinya. Namun, kata Prof. Paulina, belum banyak tenaga kependidikan yang mempersiapkan kompetensinya.

Kompetensi ini didapat tenaga kependidikan bukan hanya dari jenjang pendidikan, tetapi dari pengalaman, mentoring, dan modeling. Ia mengatakan, kompetensi ini bergantung pada komitmen setiap tenaga kependidikan, institusi, dan komunitas profesinya.

Asesor Sumber Daya Manusia Aparatur Badan Kepegawaian Negara Yulina Setiawati NN, S.H., M.M., mengatakan, pemerintah memfasilitasi jabatan fungsional tertentu melalui berbagai regulasi, mulai dari UU Aparatur Sipil Negara tahun 2014 hingga Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017.

Digulirkannya UU ASN tahun 2014 merupakan penyempurna dari UU Nomor 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian. Ini didasarkan atas berbagai kendala yang muncul dari UU 43, yaitu ketidaksesuaian antara kompetensi individu dengan kompetensi jabatan, adanya intervensi politik, dan perihal kinerja aparatur sipil negara.

Kebijakan jabatan fungsional tertentu merupakan upaya pemerintah dalam melakukan reformasi birokrasi. Sasaran dari kebijakan ini adalah untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, bebas praktik KKN, akuntabel, dan mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

Selain itu, kebijakan ini sekaligus mengubah basis manajemen kepagawaian yang dari semula berbasis administrasi menjadi berbasis keahlian.

Konferensi dan seminar nasional ini pertama kali digelar di Indonesia dan difasilitasi oleh seluruh tenaga kependidikan Unpad. Saat membuka konferensi, Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad mengapresiasi digelarnya acara yang murni dikelola oleh tenaga kependidikan ini.

“Ini tidak terlepas dari upaya Unpad dalam mendukung reformasi birokrasi,” ujar Rektor.

Melihat tantangan global saat ini, tenaga kependidikan diharapkan dapat mengantisipasi berbagai perubahan di level pendidikan tinggi. Rektor berharap, tenaga kependidikan tidak sekadar hanya merepons, namun memiliki inisiatif untuk mengantisipasi sekaligus membayangkan tantangan apa yang muncul ke depannya.

Tenaga kependidikan menjadi salah satu pilar penting penggerak perubahan. Diharapkan konferensi ini dapat memberikan masukan terkait kebijakan jabatan fungsional tertentu kepada pemerintah.

Konferensi yang digelar hingga Jumat (13/10) ini diikuti 468 peserta yang terdiri atas 62 pemakalah dan 408 peserta dari berbagai kementerian, lembaga, dan perguruan tinggi. Selain Prof. Paulina dan Yulina, turut hadir pembicara Muhammad Sumitro, S.H., M.AP, (Direktur SDM Kearsipan dan Sertifikasi ANRI), Dr. Ir. Setiawan Wangsaatmaja (Deputi Bidang SDM Aparatur Menpan RB), Prof. Dr. Bunyamin Maftuh (Direktur Karir dan Kompetensi SDM Kemenristekdikti), Lutfiati Makarim, dan Dr. Heru Nurasa (Dosen FISIP Unpad).*



Laporan oleh Arief Maulana

The post Tantangan Meningkat, Tenaga Kependidikan Harus Punya Kompetensi appeared first on Universitas Padjadjaran.