Unpad Jadi Fasilitator Utama Pengembangan Kurikulum Transformatif Kewirausahaan Sosial

[unpad.ac.id, 26/2/2018] Universitas Padjadjaran menjadi fasilitator utama yang dilibatkan British Council Indonesia dalam pengembangan kurikulum transformatif kewirausahaan sosial tingkat nasional. Ini didasarkan keberhasilan Unpad dalam mengintegrasikan kewirausahaan sosial dalam ekosistem perguruan tinggi, baik pada kurikulum maupun di kegiatan kemahasiswaan.

Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad Dr. Dwi Purnomo, S.TP., M.T., saat menjadi pembicara dalam Workshop pengembangan kurikulum transformatif kewirausahaan sosial yang digelar British Council Indonesia di Universitas Prasetya Mulya, Jakarta, 13 – 14 Februari lalu. Unpad dipercaya menjadi fasilitator utama oleh British Council Indonesia dalam pengembangan kurikulum transformatif kewirausahaan sosial tingkat nasional. Ini didasarkan keberhasilan Unpad dalam mengintegrasikan kewirausahaan sosial dalam ekosistem perguruan tinggi, baik pada kurikulum maupun di kegiatan kemahasiswaan.

Sebagai upaya menyebarkan nilai positif tersebut, British Council mengajak Unpad menjadi fasilitator utama dalam Workshop yang digelar di Universitas Prasetya Mulya, Jakarta, 13 – 14 Februari lalu. Workshop ini diikuti 24 perguruan tinggi se-Indonesia.

Berdasarkan rilis yang diterima Humas Unpad, British Council menilai Unpad berhasil mengembangkan pendekatan design thinking (DT) dalam menggerakkan kewirausahaan sosial. Keberhasilan ini patut menjadi contoh dan dikembangkan di seluruh Indonesia.

Secara singkat, DT merupakan pendekatan bertahap untuk menciptakan inovasi yang diharapkan dapat terlaksana secara berkelanjutan. Tahapan tersebut mencakup proses observasi, sintesis, curah pikiran (brainstorming), pengambilan keputusan, purwarupa, hingga inovasi.

Kurikulum dengan pendekatan DT ini menghasilkan kemampuan kognitif, afektif, serta psikomotorik yang baik bagi mahasiswa. Di sisi lain, pendekatan ini juga selaras dengan pengembangan keilmuan secara kolaboratif.

Lebih lanjut, Unpad direkognisi berhasil menyesuaikan  pendekatan kewirausahaan sosial dalam konteks lokal. Ini dipandang menarik dan menimbulkan manfaat luas bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat melalui peran mahasiswa sebagai lokmotif perubahan di masyarakat.

Dalam workshop tersebut, pihak Unpad diwakili Wakil Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad Dr. Dwi Purnomo, S.TP., M.T. Saat menjadi pembicara, Dr. Dwi menyampaikan berbagai pengelamannya di Unpad dalam membangun kurikulum transformatif.

Tidak hanya di satu bidang ilmu, kurikulum ini juga ditularkan pada progam studi lain, kegiatan kemahasiswaan, serta pada kegiatan kemasyarakat.

“Ragam temuan dan sistem kurikulum kewirausahaan sosial di Unpad dinilai lebih mapan dibanding perguruan tinggi lainnya, sehingga dapat dijadikan salah satu rujukan pengembangan kurikulum kewirausahaan sosial,” ujar Dr. Dwi.

Menindaklanjuti pertemuan tersebut, pihak British Council juga berencana mengundang Unpad ke Inggris untuk dipertemukan dengan beragam pemangku kepentingan terkait pengembangan kewirausahaan sosial, Maret mendatang. Pertemuan tersebut juga dilakukan dalam konteks pengembangan kurikulum pendidikan tinggi transformatif.

Deputi Direktur British Council Indonesia Ian Robinson dalam kesempatan tersebut mengapresiasi komitmen perguruan tinggi di Indonesia yang menaruh perhatian dalam mengintegrasikan aspek kewirausahaan sosial dalam konten edukasinya.

Ian menjelaskan, kewriausahaan sosial dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Hal ini mendorong British Council aktif melakukan pengembangan berbagai kegiatan kewirausahaan sosial di seluruh dunia.*

Rilis/am

 

The post Unpad Jadi Fasilitator Utama Pengembangan Kurikulum Transformatif Kewirausahaan Sosial appeared first on Universitas Padjadjaran.